Kisah Keberanian dan Pertolongan Allah dalam Surat Al-Fil

Kisah Keberanian dan Pertolongan Allah dalam Surat Al-Fil

Kisah Keberanian dan Pertolongan Allah dalam Surat Al-Fil

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, anak-anakku yang sholeh dan sholehah!

Bagaimana kabar kalian hari ini? Semoga selalu dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan semangat belajar ya. Hari ini, kita akan bersama-sama menjelajahi salah satu surat terpendek namun penuh makna dalam Al-Qur’an, yaitu Surat Al-Fil. Surat ini mengajarkan kita tentang kebesaran Allah, kekuasaan-Nya yang tak terbatas, dan bagaimana Dia selalu menolong hamba-Nya yang beriman ketika menghadapi kezaliman.

Apa Itu Surat Al-Fil?

Kisah Keberanian dan Pertolongan Allah dalam Surat Al-Fil

Surat Al-Fil adalah surat ke-105 dalam urutan mushaf Al-Qur’an. Nama "Al-Fil" sendiri berarti "Gajah". Mengapa dinamakan demikian? Nanti kita akan bahas kisahnya yang sangat menarik. Surat ini terdiri dari lima ayat pendek yang sangat mudah dihafal, namun menyimpan pelajaran yang sangat berharga bagi kita.

Mari kita baca bersama-sama Surat Al-Fil, lalu kita akan bedah satu per satu maknanya.

Teks Surat Al-Fil Beserta Terjemahannya:

  1. أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ

    • Artinya: "Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara gajah?"
  2. أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ

    • Artinya: "Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia?"
  3. وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ

    • Artinya: "Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong,"
  4. تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ

    • Artinya: "yang melempari mereka dengan batu (dari) tanah yang keras."
  5. فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ

    • Artinya: "lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang (terkena) dimakan ulat."

Kisah di Balik Surat Al-Fil: Tentara Gajah yang Celaka

Nah, sekarang kita akan membahas kisah menarik yang menjadi latar belakang turunnya Surat Al-Fil. Kisah ini terjadi di Mekkah pada masa sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus menjadi rasul.

Pada saat itu, ada seorang raja yang sangat berkuasa bernama Raja Abrahah Al-Asyram. Raja Abrahah ini berasal dari Yaman. Dia merasa iri melihat Ka’bah di Mekkah yang selalu ramai dikunjungi oleh orang-orang dari berbagai penjuru untuk beribadah dan berdagang. Ka’bah adalah bangunan suci yang sangat dihormati oleh bangsa Arab pada masa itu, bahkan sebelum Islam datang.

Karena rasa iri dan ambisinya, Raja Abrahah kemudian membangun sebuah gereja yang sangat megah di Yaman, yang diberi nama Al-Qulais. Dia berharap gereja ini akan menyaingi kemasyhuran Ka’bah. Namun, usahanya tidak berhasil. Orang-orang tetap lebih tertarik beribadah ke Ka’bah.

Hal ini membuat Raja Abrahah semakin marah dan dendam. Akhirnya, dia memutuskan untuk melakukan tindakan yang sangat keji: menghancurkan Ka’bah! Untuk melancarkan rencananya, Raja Abrahah mengumpulkan pasukan yang sangat besar dan kuat. Pasukan ini dilengkapi dengan persenjataan modern pada zamannya, termasuk gajah-gajah besar yang belum pernah dilihat oleh bangsa Arab sebelumnya. Gajah-gajah ini sangat ditakuti karena ukurannya yang besar dan kekuatannya yang dahsyat. Raja Abrahah berharap dengan pasukan gajah ini, dia bisa dengan mudah menghancurkan Ka’bah dan semua yang ada di sekitarnya.

Pasukan Raja Abrahah pun berangkat menuju Mekkah. Mereka membawa gajah yang paling besar dan kuat, yang diberi nama Mahmud. Ketika pasukan ini mendekati Mekkah, mereka mulai menimbulkan ketakutan dan kekacauan. Banyak penduduk Mekkah yang berlarian menyelamatkan diri.

Namun, ada satu orang yang berani, yaitu Abdullah bin Abi Rabi’ah, seorang tokoh Quraisy yang berusaha untuk menghentikan pasukan Abrahah. Dia mencoba berbicara dengan Raja Abrahah, namun usahanya sia-sia.

Ketika pasukan Raja Abrahah tiba di dekat Mekkah, tepatnya di sebuah tempat bernama Mughammas, mereka mulai merampas harta benda milik penduduk Mekkah, termasuk unta-unta milik Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abdul Muthalib adalah pemimpin suku Quraisy yang sangat dihormati.

Meskipun marah, Abdul Muthalib tidak memilih untuk berperang melawan pasukan Abrahah yang jauh lebih besar dan memiliki gajah-gajah yang menakutkan. Dia sadar bahwa pertempuran akan sia-sia dan akan menimbulkan banyak korban. Sebaliknya, Abdul Muthalib pergi menemui Raja Abrahah.

Ketika bertemu, Raja Abrahah bertanya kepada Abdul Muthalib apa yang dia inginkan. Abdul Muthalib dengan tenang menjawab bahwa dia hanya ingin meminta kembali unta-untanya yang dirampas. Raja Abrahah merasa heran dan tertawa. Dia berkata, "Aku datang untuk menghancurkan Ka’bah yang merupakan rumah ibadah kalian, dan kamu hanya meminta kembali unta-untamu?"

Abdul Muthalib menjawab dengan bijak, "Aku adalah pemilik unta-unta ini. Adapun Ka’bah, ia memiliki Tuhannya sendiri yang akan menjaganya." Jawaban ini menunjukkan keyakinan Abdul Muthalib yang teguh kepada Allah.

Setelah itu, Abdul Muthalib kembali ke Mekkah dan memerintahkan seluruh penduduk Mekkah untuk naik ke bukit-bukit mengelilingi Ka’bah agar selamat dari serangan. Dia juga memimpin mereka untuk berdoa dan memohon pertolongan Allah.

Pada hari ketika Raja Abrahah hendak menyerang Ka’bah, dia memerintahkan pasukan gajahnya untuk maju. Namun, gajah yang paling besar, Mahmud, tiba-tiba menolak untuk bergerak maju ke arah Ka’bah. Gajah-gajah lainnya pun demikian. Mereka terlihat gelisah dan tidak mau menyerang.

Ketika para pasukan mencoba memutar gajah-gajah itu ke arah lain, mereka mau berjalan. Namun, ketika diarahkan kembali ke Mekkah, mereka kembali menolak.

Saat itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala menunjukkan kekuasaan-Nya. Dari arah laut, datanglah burung-burung berbondong-bondong (thair ababil). Burung-burung ini bukanlah burung biasa. Di paruh dan cakar mereka, mereka membawa batu-batu kecil (sijil) yang sangat keras.

Burung-burung itu kemudian terbang di atas pasukan Raja Abrahah dan mulai melemparkan batu-batu kecil tersebut. Batu-batu itu seperti hujan yang turun dari langit. Setiap batu yang mengenai tubuh pasukan atau gajah-gajah mereka, langsung menimbulkan luka yang parah dan rasa sakit yang luar biasa. Seolah-olah batu-batu itu adalah api neraka yang membakar mereka.

Pasukan Raja Abrahah pun menjadi panik dan ketakutan. Mereka berlarian tanpa arah, saling bertabrakan, dan banyak yang mati seketika. Gajah-gajah yang tadinya gagah perkasa pun roboh tak berdaya. Raja Abrahah sendiri terluka parah dan akhirnya kembali ke Yaman dalam keadaan hina bersama sisa-sisa pasukannya yang selamat.

Ka’bah pun terselamatkan dari kehancuran berkat pertolongan Allah yang luar biasa.

Pelajaran Berharga dari Surat Al-Fil untuk Kita

Kisah tentara gajah yang celaka ini mengajarkan kita banyak hal penting:

  1. Allah Maha Kuasa atas Segala Sesuatu: Surat Al-Fil menunjukkan betapa kecilnya kekuatan manusia jika dibandingkan dengan kekuasaan Allah. Raja Abrahah dengan pasukan gajahnya yang besar dan menakutkan, pada akhirnya tidak berdaya menghadapi kekuasaan Allah. Allah bisa mengalahkan musuh dengan cara yang tidak terduga, bahkan melalui makhluk sekecil burung.

  2. Allah Selalu Menolong Hamba-Nya yang Beriman: Ketika kaum Quraisy menghadapi ancaman besar dan berdoa memohon pertolongan, Allah mendengarkan doa mereka dan memberikan pertolongan. Ini mengajarkan kita bahwa jika kita beriman kepada Allah dan berserah diri kepada-Nya, Allah akan selalu ada untuk menolong kita dalam kesulitan.

  3. Kezaliman Pasti Akan Kalah: Kisah ini membuktikan bahwa kezaliman dan kesombongan tidak akan pernah berhasil dalam jangka panjang. Raja Abrahah yang sombong dan berniat jahat untuk menghancurkan rumah Allah, justru dihancurkan oleh Allah sendiri. Allah tidak suka dengan orang-orang yang berbuat zalim.

  4. Jangan Takut pada Kekuatan Duniawi: Kita tidak boleh gentar atau takut berlebihan pada kekuatan fisik, kekayaan, atau jabatan orang lain yang berbuat jahat. Kekuatan terbesar ada pada Allah. Selama kita berada di jalan yang benar dan berpegang teguh pada ajaran agama, Allah akan melindungi kita.

  5. Pentingnya Doa dan Tawakkal: Abdul Muthalib mengingatkan kita tentang pentingnya berdoa kepada Allah dan bertawakkal (berserah diri) setelah berusaha. Dia tidak melawan dengan kekuatan fisik semata, tetapi juga memohon pertolongan dari Sang Pencipta.

  6. Keutamaan Menjaga Rumah Allah: Peristiwa ini terjadi karena ada niat jahat untuk menghancurkan Ka’bah. Ini menunjukkan betapa pentingnya kita menjaga dan menghormati tempat-tempat ibadah, seperti masjid dan mushola, serta rumah-rumah Allah lainnya.

Bagaimana Kita Bisa Mengamalkan Ajaran Surat Al-Fil dalam Kehidupan Sehari-hari?

Anak-anakku yang cerdas, kita bisa mengamalkan pelajaran dari Surat Al-Fil dalam kehidupan kita sehari-hari dengan cara:

  • Senantiasa Berdoa kepada Allah: Setiap kali kita menghadapi kesulitan, masalah, atau rasa takut, jangan lupa untuk berdoa. Mintalah pertolongan kepada Allah.
  • Yakin dengan Pertolongan Allah: Percayalah bahwa Allah akan selalu menolong kita jika kita berbuat baik dan tidak melakukan kezaliman.
  • Menghindari Perbuatan Zalim: Jangan pernah menyakiti orang lain, mengambil hak orang lain, atau berbuat semena-mena. Ingatlah bahwa Allah tidak suka dengan kezaliman.
  • Menjaga Kebersihan dan Kehormatan Masjid: Ketika kita pergi ke masjid, berperilakulah dengan sopan, jaga kebersihan, dan jangan membuat kegaduhan.
  • Berani Membela Kebenaran: Jika kita melihat sesuatu yang salah atau ada orang yang dizalimi, berusahalah untuk membela kebenaran sebisa mungkin, dengan cara yang baik dan sesuai dengan ajaran agama.
  • Belajar dengan Sungguh-sungguh: Mempelajari Al-Qur’an, termasuk Surat Al-Fil, adalah salah satu cara kita mendekatkan diri kepada Allah.

Mari Kita Latihan Menghafal Surat Al-Fil

Menghafal Al-Qur’an adalah amalan yang sangat mulia. Mari kita coba menghafal Surat Al-Fil ayat demi ayat.

  • Ayat 1: أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ (Alam tara kaifa fa’ala rabbuka bi ashabil fil)
  • Ayat 2: أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ (Alam yaj’al kaidahum fi tadlil)
  • Ayat 3: وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ (Wa arsala ‘alaihim thairan ababil)
  • Ayat 4: تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ (Tarmihim bihijaratin min sijil)
  • Ayat 5: فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ (Fa ja’alahum ka’asfin ma’kul)

Ulangi terus bacaan ini sampai kalian hafal ya. Mintalah bantuan orang tua atau guru kalian untuk mengecek hafalan kalian.

Penutup

Anak-anakku yang sholeh dan sholehah, Surat Al-Fil adalah pengingat yang indah dari Allah tentang kekuasaan-Nya yang tak terbatas dan janji-Nya untuk menolong hamba-Nya yang beriman. Semoga kisah ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, agar kita senantiasa menjadi hamba Allah yang taat, berani membela kebenaran, dan tidak pernah takut menghadapi kezaliman karena kita tahu bahwa Allah selalu bersama kita.

Terus semangat belajar, membaca Al-Qur’an, dan mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan kalian.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

admin
https://staimmkml.ac.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *